“Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34)
Pengampunan bukan berarti membenarkan kesalahan seseorang, tetapi memilih untuk tidak dikuasai oleh kebencian. Dengan mengampuni, orang percaya menyerahkan penghakiman kepada Tuhan, karena hanya Tuhan yang adil.
Firman Tuhan juga mengingatkan:
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:31–32)
Dalam kehidupan sehari-hari, memendam amarah dapat diatasi dengan datang kepada Tuhan dalam doa, membaca firman-Nya, berbicara dengan orang yang dapat dipercaya, serta berusaha menyelesaikan konflik dengan kasih dan kerendahan hati. Roh Kudus memampukan setiap orang percaya untuk mengendalikan diri dan menghasilkan buah Roh, termasuk kasih, kesabaran, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Pada akhirnya, bukan sekadar rasa marah yang menjadi persoalan, melainkan ketika amarah dibiarkan menguasai hati hingga melahirkan kebencian, dendam, dan keengganan untuk mengampuni. Itulah sebabnya orang Kristen dipanggil untuk melepaskan kepahitan dan hidup dalam kasih, sebab kasih mencerminkan karakter Kristus.
Kesimpulan
Menurut ajaran Kristen, memendam amarah hingga menjadi kepahitan dan kebencian bukanlah kehendak Tuhan. Orang percaya dipanggil untuk segera berdamai, mengampuni, dan menyerahkan setiap luka kepada Tuhan. Hati yang dipenuhi kasih akan menghadirkan damai sejahtera, sementara hati yang dipenuhi kebencian hanya akan membawa penderitaan. Karena itu, marilah kita belajar mengampuni sebagaimana Kristus telah lebih dahulu mengampuni kita. (Tim)