NMM | KESEHATAN – Di Kepulauan Mentawai, masyarakat lokal mengenal ulat kayu disebut sebagai “tutube”, yaitu larva yang hidup di batang atau pohon tertentu yang mulai membusuk. Tutube sudah lama menjadi bagian dari tradisi pangan masyarakat Mentawai, terutama sebagai sumber protein alami yang mudah olah. Banyak keluarga di desa-desa pedalaman masih mengonsumsi tutube baik sebagai makanan harian maupun sebagai asupan penambah tenaga.
Kandungan Protein Ulat Kayu (Tutube)
Ulat kayu atau tutube dikenal sebagai salah satu sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang sangat tinggi. Beberapa penelitian mengenai ulat kayu di Indonesia menunjukkan bahwa:
Kandungan proteinnya mencapai 25–40% per 100 gram.
Mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
Kaya lemak sehat, terutama asam lemak tak jenuh.
Mengandung mineral seperti zat besi, zinc, dan magnesium.
Mengandung vitamin, terutama vitamin B kompleks.
Dengan kandungan tersebut, tutube dapat menjadi sumber energi dan nutrisi penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pangan modern.
Peran Tutube dalam Budaya Mentawai
Dalam kehidupan masyarakat Mentawai, tutube tidak sekadar makanan biasa, tetapi juga memiliki makna budaya, antara lain:
1. Makanan Tradisional Hutan
Tutube dianggap sebagai “hadiah hutan” yang mudah didapat ketika warga pergi berburu atau mengambil kayu. Biasanya mereka mencari tutube pada pohon kayu lapuk atau mati, atau pohon yang tumbang.
2. Sumber Energi Saat Beraktivitas di Hutan
Para pemburu, dan mereka yang bekerja di ladang sering mengonsumsi tutube sebagai sumber energi cepat, karena lemak dan proteinnya tinggi.
3. Dihidangkan sebagai makanan sehari-hari
Di beberapa wilayah, tutube dapat disajikan sebagai makanan sehari – hari atau bisa menjadi sebagai pengganti lauk saat cuaca buruk tidak bisa menangkap ikan atau berburu.
