Koperasi Merah Putih di Mentawai akan mengembangkan berbagai unit usaha sesuai kebutuhan masyarakat desa, seperti toko sembako, unit simpan pinjam, apotek, klinik desa, cold storage, hingga sarana logistik. Selain itu, koperasi juga diarahkan untuk mengembangkan usaha berbasis kearifan lokal, seperti pengolahan hasil laut, kerajinan tangan, maupun pariwisata.
“Potensi perikanan dan kelautan Mentawai sangat besar. Koperasi bisa menjadi solusi agar hasil tangkapan nelayan disimpan, diolah, dan dipasarkan dengan nilai tambah yang lebih tinggi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Jakop menyebutkan ada tiga strategi pengembangan koperasi di Mentawai: mendirikan koperasi baru di desa yang belum memiliki, mengembangkan koperasi yang sudah ada, serta merevitalisasi koperasi lama yang tidak aktif.
Dengan hadirnya koperasi di 43 desa, diharapkan lahir pusat-pusat ekonomi kerakyatan yang mandiri, berdaya saing, dan mampu menekan angka pengangguran.
“Melalui koperasi, kita ingin desa-desa di Mentawai mandiri secara ekonomi. Koperasi menjadi rumah besar bagi masyarakat untuk belajar, berusaha, dan berkembang bersama,” tutur Jakop.
Para kepala desa yang hadir menyambut positif inisiatif ini karena dinilai sejalan dengan kebutuhan desa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian lokal.
Menutup pemaparannya, Jakop menekankan pentingnya kolaborasi antara koperasi desa, BUMDes, UMKM, pemerintah desa, dan dunia usaha melalui program kemitraan maupun CSR.
“Koperasi tidak bisa berjalan sendiri. Harus ada kolaborasi dengan semua pihak, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Dengan begitu, koperasi bisa tumbuh menjadi pilar ekonomi desa yang kuat,” pungkasnya. (yy/bm)
