Faisal memperkirakan Trump sejak awal sudah memikirkan dampak kenaikan tarif ini dengan mendorong kebijakan “drill baby drill” guna menggenjot produksi energi tak terbarukan yang dinilainya dapat meredam inflasi.
“Itulah sebabnya Trump mendorong produksi energi yang bukan energi hijau ramah lingkungan yang jelas lebih mahal. Trump mendukung energi tak terbarukan (minyak bumi, batu bara, gas alam dan energi nuklir.red). Amerika serikat memiliki cadangan besar di energi ini dan Trump meyakini hal itu dapat meredam inflasi,” imbuhnya.
Masih Terpaku Kebijakan pada Masa Jabatan Pertama?
Namun pakar ekonomi di CSIS, Muhammad Habib, khawatir Trump masih terpaku dengan kebijakan kenaikan tarif terhadap China yang diberlakukannya pada masa jabatan pertama.
Sebagai Penerima GSP dari Amerika Serikat, Adakah Implikasi Kenaikan Tarif Trump?
Faisal dan Habib sama-sama memproyeksikan bahwa Trump bisa jadi akan menaikkan tarif impor dari negara-negara lain, termasuk dari Vietnam – dan mungkin saja dari Indonesia, yang pernah ikut menikmati fasilitas khusus dalam GSP (generalized system of preferences) sebelum berakhir pada Desember 2020.
“Saya kira untuk mengantisipasi kemungkinan kena tarif, pemerintah harus mencari jalan keluar untuk produk-produk yang kemungkinan berkurang permintaannya di pasar Amerika Serikat. Bisa dengan meningkatkan serapan pasar dalam negeri dan meningkatkan ekspor ke pasar negara lain. Ini terutama untuk produk tekstil, yang memang 50 persen dipasarkan ke Amerika Serikat, dan termasuk salah satu dari 3.500an produk Indonesia yang menerima GSP (generalized system of preferences) dari Amerika Serikat,” sebutnya.
Langkah Strategis
Muhammad Habib di CSIS menyerukan empat langkah strategis untuk mengantisipasi dampak kebijakan tarif baru Amerika Serikat pada Kanada, Meksiko dan China.
“Pertama, kita identifikasi terlebih dahulu produk apa yang bisa ditingkatkan pembeliannya (diimpor) dari Amerika Serikat. Kedua, jika tidak banyak produk yang bisa diimpor, mungkin kitab isa memobilisasi sektor swasta di Indonesia untuk investasi di Amerika Serikat karena pastinya akan banyak peraturan yang dideregulasi oleh Trump, termasuk pengurangan pajak atau fasilitas lain, untuk menarik investor dari luar Amerika Serikat. Ketiga, kerjasama dengan Amerika Serikat di bawah Trump sekarang ini memiliki pakem bahwa setiap uang atau fasilitas yang diberikan Amerika Serikat, akan membuat negara itu lebih aman, lebih sejahtera dan lebih kuat,” jelasnya.
Pemerintah Trump belum mengatakan seberapa besar potensi kenaikan harga atau perbaikan apa yang perlu dilakukan untuk menghentikan arus imigrasi ilegal dan penyelundupan fentanil supaya tarif yang diberlakukan Trump dengan justifikasi hukum adanya kedaruratan ekonomi dapat dihapus. Tarif baru tersebut akan diberlakukan mulai hari Selasa (3/2).
Data dari Gedung Putih menunjukkan meskipun sektor perdagangan menyumbang 67 persen pada PDB Kanada, 73 persen pada PDB Meksiko, dan 37 persen pada PDB China; sektor perdagangan hanya menyumbang 24 persen pada PDB Amerika Serikat. Defisit perdagangan barang Amerika Serikat pada tahun 2023 bahkan mencapai yang terbesar di dunia, yaitu lebih dari satu triliun dolar.
Source : VoA
