Mensos: Sekolah Rakyat Putus Rantai Kemiskinan

Menurut Gus Ipul, pendampingan siswa mencakup pemeriksaan kesehatan, pemulihan psikologis, matrikulasi, dan pemetaan bakat. Dari 11 ribu anak yang telah dipetakan, empat dari sepuluh anak dilaporkan memiliki bakat kuat di bidang sains dan teknologi.

Saat ini, proses pembelajaran didukung hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama. Pendekatan pendidikan mencakup penguatan kesehatan fisik, karakter dan kepercayaan diri, serta kemampuan akademik.

Hingga Oktober 2026, terdapat 100 titik Sekolah Rakyat permanen, dengan 93 titik telah beroperasi dan tujuh lainnya masih dibangun. Selain itu, terdapat 82 Sekolah Rakyat rintisan, sehingga total 182 titik melayani sekitar 44 ribu siswa.

Kemensos juga melaporkan capaian siswa berupa 11 prestasi internasional, lebih dari 200 prestasi nasional, serta lebih dari 1.100 siswa berprestasi di bidang olahraga, seni, dan sains. Dari lulusan tingkat SMA tahun ini, tujuh siswa diterima di perguruan tinggi dengan beasiswa penuh, sedangkan lima lainnya memperoleh pekerjaan sesuai minat dan bakat.

Program ini turut menyasar keluarga siswa melalui bantuan sosial dan pemberdayaan ekonomi. Kemensos mencatat lebih dari 10 ribu rumah orang tua siswa telah diperbaiki, lebih dari 11 ribu orang tua menerima bantuan modal usaha, dan lebih dari 9.000 orang tua memperoleh layanan rehabilitasi sosial.

Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman mengapresiasi pelaksanaan Sekolah Rakyat dan menyatakan dukungan pemerintah daerah terhadap program tersebut. Ia menilai program ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi Indonesia menuju 2045.

Peringatan satu tahun Sekolah Rakyat diisi berbagai penampilan siswa, mulai dari tarian tradisional, bela diri, baris variasi, hingga drama dan pembacaan puisi. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa dari berbagai daerah untuk menunjukkan kemampuan dan kepercayaan diri.

Share :