Sementara solusi yang diambil yaitu menyediakan mekanisme pelaporan secara luring (offline) apabila diperlukan, mengoptimalkan penggunaan media komunikasi yang tersedia, menyusun standar waktu pelaporan yang mempertimbangkan kondisi geografis, dan melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan penyedia layanan telekomunikasi untuk mendukung konektivitas.
Kemudian tantangan ketiga adalah Keterbatasan SDM. Jumlah pegawai Sekretariat dan personel pengawasan relatif terbatas dibanding luas wilayah kerja. “Solusi yang kita lakukan yaitu meningkatkan kompetensi pegawai melalui pelatihan dan bimbingan teknis, menerapkan pembagian tugas yang jelas dan berbasis kompetensi, dan mengoptimalkan kolaborasi antara pimpinan, sekretariat, dan jajaran pengawas”, ujarnya.
Selanjutnya tantangan berikutnya yakni Efisiensi Pengelolaan Anggaran, dimana biaya perjalanan dinas antarpulau cukup tinggi sehingga memengaruhi efektivitas penggunaan anggaran. Beberapa solusi yang diambil seperti menyusun perencanaan kegiatan yang terintegrasi, menggabungkan beberapa agenda dalam satu perjalanan dinas, mengoptimalkan koordinasi secara daring untuk kegiatan yang tidak memerlukan kehadiran fisik.
Tak hanya itu Digitalisasi Administrasi juga menjadi salah satu tantangan bagi Bawaslu Mentawai, misalnya masih diperlukannya peningkatan kemampuan pegawai dalam pemanfaatan teknologi informasi dan pengelolaan arsip digital. Pihak Bawaslu juga mencoba mencari solusi seperti melaksanakan pelatihan teknologi informasi secara berkala, menerapkan standar operasional prosedur (SOP) administrasi digital dan mengembangkan budaya kerja berbasis teknologi.
“Nah, yang terakhir tantangan kita adalah bagaimana meningkatkan Kepercayaan Publik. Masyarakat yang tersebar di wilayah kepulauan membutuhkan akses informasi yang merata mengenai tugas dan fungsi Bawaslu. Adapun solusi yang kita lakukan yaitu memperkuat pengawasan partisipatif melalui tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan organisasi masyarakat, meningkatkan keterbukaan informasi publik serta memanfaatkan media sosial dan media lokal sebagai sarana edukasi kepemiluan”, Tutup Nasrullah. (Str)
