Si Gadis Manis yang Membuka Rumah Belajar Mentawai

NMM. Mentawai – Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter seseorang, membantu mereka memahami dunia, dan memberi mereka keterampilan untuk menghadapi tantangan hidup. Pendidikan tidak hanya terbatas pada sekolah atau institusi formal, tetapi juga mencakup pembelajaran sepanjang hayat.

Peduli pendidikan berarti memberikan perhatian, dukungan, dan kontribusi terhadap sistem dan proses pendidikan agar berjalan dengan baik dan dapat diakses oleh semua kalangan. Sikap ini penting karena pendidikan adalah pilar utama dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, mandiri, dan sejahtera.

Dian Febriani Wau (20) seorang mahasiswi dengan jurusan psikologi di Universitas Trunojoyo Madura yang punya hati kepedulian pendidikan terhadap anak-anak Mentawai untuk berbagi ilmu, pengalaman serta suka cita yang menjadikan dirinya sebagai salah satu pemerhati terhadap anak-anak yang membutuhkan pendidikan.

Anak dari pasangan Bapak Sekhi wolo Wau dan Ibu Tiami Wau ini meski dari keluarga sederhana tapi kepeduliannya terhadap anak-anak Mentawai sudah terpikirkan sejak dia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) Penabur Berkat, Kabupaten Kepulauan Mentawai meskipun dia terlahir dari Suku Nias.

Saat tim Nests Media Mentawai berdiskusi dengannya pada Senin, (20/1/2025), dia mengatakan bahwa tak mudah baginya untuk mencapai titik saat ini sebagai seorang perempuan yang ingin mengabdikan dirinya sebagai Founder Rumah Belajar (RB) bagi anak-anak Mentawai yang ingin menggali ilmu pendidikan.

Ia bercerita bahwa sejak masih SMA kelas 1, dia sudah mulai terpikir untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak Mentawai, namun apa dayanya ia tidak bisa berbuat banyak karena kemampuannya yang terbatas dengan usia masih sangat muda dan tentunya masih membutuhkan banyak ilmu dan masih berstatus sebagai pelajar tingkat SMA.


 

“Waktu itu, saya berada di gereja dan hati saya di gerakkan Tuhan untuk mengasihi Mentawai. Tapi saya ga tau harus berbuat apa karena saya masih kelas 1 SMA. Akhirnya saya komitmen untuk melakukan hal-hal yang saya bisa, yakini mengajar anak-anak, karena itu passion saya juga”, katanya.

Dia mengatakan bahwa semua yang diberikan kepada anak-anak adalah bentuk cinta dan perhatiannya dan tidak dibayar sedikitpun dan gratis, awalnya dia hanya mengajak anak-anak yang ada di sekitar tempat dia tinggal dan ternyata anak-anak ini sangat bersemangat dan mau untuk belajar bersama.

“Lalu saya mengajak anak-anak di sekitar rumah saya, dan menawarkan mereka untuk belajar gratis. Puji Tuhan respon anak-anak sangat bersemangat sekali, sampai mereka ajak teman-temannya dan saudara-saudaranya untuk datang, jadi bagi saya itu suatu ledakan yang besar anak-anak datang ke rumah untuk belajar”, sambungnya.

Berbagai tantangan dan kendala sering dia alami selama mengajar anak-anak, namun semangatnya tak pernah luntur ia terus memberikan semampunya kepada anak-anak yang sudah dianggap sebagai keluarga barunya, ia sangat mencintai anak-anak begitu juga sebaliknya, sehingga semangatnya untuk mengajar semakin bertambah, bahkan anak-anak juga semakin bersemangat dan bertambah ramai, dari yang belum sekolah sampai kelas 6 Sekolah Dasar (SD).

Share :