“Jadi tidak seperti yang kita bayangkan bahwa akan tertutupnya bandara kemudian masyarakat beralih. Ternyata masyarakat banyak yang memilih untuk membatalkan perjalanan penyeberangannya.” ujar Dudy.
Dengan kondisi tersebut, ia menuturkan, pemerintah belum perlu menambah jumlah kapal yang beroperasi di lintasan Merak-Bakauheni. Dudy menyebut, keputusan itu diambil karena jumlah penumpang yang menggunakan layanan penyeberangan justru mengalami penurunan.
“Secara operasional masih berfungsi normal, namun demikian jumlah penumpang malah berkurang. Jadi kita tidak menambah kapal karena jumlah penumpang itu berkurang,” kata Dudy.
Pemerintah hingga kini terus memantau perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau dan dampaknya terhadap aktivitas transportasi. Pemantauan dilakukan untuk memastikan keselamatan masyarakat serta kelancaran operasional transportasi di wilayah terdampak abu vulkanik.